Tumanduk: 4 Warga Kecamatan Tenga Positif DBD

Minsel,SuaraKawanua– Akibat curah hujan akhir-akhir ini cukup tinggi membuat warga masyarakat harus waspada terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, biar bagaimanapun ancaman DBD tetap terjadi. Terhitung, sejak Januari hingga Februari 2020 ini, terdapat empat orang positif DBD.


Akibat curah hujan akhir-akhir ini cukup tinggi membuat warga masyarakat harus waspada terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, biar bagaimanapun ancaman DBD tetap terjadi. Terhitung, sejak Januari hingga Februari 2020 ini, terdapat empat orang positif DBD.

Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tenga Harol A Tumanduk membenarkan hal diatas. ‘’Ya, terdapat empat kasus DBD di wilayah Puskesmas Tenga. Masing-masing, satu di Desa Boyong Atas, satu di Desa Pakuure III, satu juga di Desa Radey dan satu lagi di Desa Pakuure II. Dengan demikian, terdapat empat kasus positif DBD di wilayah Tenga,’’ujar Tumanduk

Kata Tumanduk, penyebab terjadinya kasus DBD pertama rata-rata warga belum sadar akan kebersihan. Artinya, warga kurang menjaga kebersihan halaman. Seperti terdapatnya air dalam kaleng atau ban mobil.

‘’Akibatnya, berkumpulah jentik-jentik nyamuk yang mengakibatkan munculnya kasus DBD. Padahal, hal diatas sudah sering disosialisasi, baik melalui pertemuan-pertemuan hingga pemberitaan melalui media cetak dan elektonik. Akan tetapi, rata-rata masyarakat tidak menyadari dampaknya. Nanti setelah positif baru dilaporkan ke instansi terkait,’’tegasnya.

Disampaikan kepada masyarakat Kecamatan Tenga, yang penting untuk kita hindari bersama adalah meminta kebersihan halaman dan lain sebagainya. Jika kita jaga bersama, pasti akan ada kasus DBD diwilayah kami

‘’Pemutusan sarang nyamuk dilingkungan rumah, penyebabnya adalah ban mobil atau kaleng dan botol-botol. Tapi terpenting disini adalah bagaimana kita bersama-sama menjadikan lingkungan kita bersih. Biar tak ada jentik-jentik nyamuk disekitar kita. Dan pasti, DBD tak akan menyerang kita. Dikatakannya, bahwa kasus diatas sudah dilaporkan kepada bupati Tetty Paruntu melalui Dinas Kesehatan Minsel dr Erwin Schouten,’’jelasnya.

Kata Tumanduk, penyebab terjadinya kasus DBD pertama rata-rata warga belum sadar akan kebersihan. Artinya, warga kurang menjaga kebersihan halaman. Seperti terdapatnya air dalam kaleng atau ban mobil.

‘’Akibatnya, berkumpulah jentik-jentik nyamuk yang mengakibatkan munculnya kasus DBD. Padahal, hal diatas sudah sering disosialisasi, baik melalui pertemuan-pertemuan hingga pemberitaan melalui media cetak dan elektonik. Akan tetapi, rata-rata masyarakat tidak menyadari dampaknya. Nanti setelah positif baru dilaporkan ke instansi terkait,’’tegasnya.

Disampaikan kepada masyarakat Kecamatan Tenga, yang penting untuk kita hindari bersama adalah meminta kebersihan halaman dan lain sebagainya. Jika kita jaga bersama, pasti akan ada kasus DBD diwilayah kami.

‘’Pemutusan sarang nyamuk dilingkungan rumah, penyebabnya adalah ban mobil atau kaleng dan botol-botol. Tapi terpenting disini adalah bagaimana kita bersama-sama menjadikan lingkungan kita bersih. Biar tak ada jentik-jentik nyamuk disekitar kita. Dan pasti, DBD tak akan menyerang kita. Dikatakannya, bahwa kasus diatas sudah dilaporkan kepada bupati Tetty Paruntu melalui Dinas Kesehatan Minsel dr Erwin Schouten,’’jelasnya.(*/hape)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *