Warga: Gubernur Paling Ideal bukan yang Suka ‘Badagang’ Tanah ke Negara

Minsel,SuaraKawanua–Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara dalam tahap kampanye. KPU Sulut sudah menggelar debap terbuka tahap 1 beberapa waktu lalu. Pada masa ini, publik mulai menimang siapa calon pemimpin Sulut terbaik di antara pasangan Christiany Eugenia Tetty Paruntu – Sehan Salim Landjar (CEP-Sehan), Vonnie Aneke Panambunan – Henry Runtuwene (VAP-HR), dan Olly Dondokambey – Steven Kandouw (OD-SK).
Dari tiga pasangan ini, sebagian warga punya kriteria gubernur ideal yang hampir sama. Mereka tidak mau calon gubernur berjiwa dagang. Apalagi dagang tanah ke negara melalui mekanisme anggaran. 
“Ada yang punya jiwa dagang tanah. Beli tanah Rp30.000 per meter, lalu jual lagi ke negara di atas Rp1.000.000 per meter. Ini merugikan negara. Tidak pantas di pilih,” ujar Stenly, warga Manado, Selasa (10/10). 

Pilihan ideal kata warga, adalah sosok yang mampu mengelola sumber-sumber pertanian. “Kalau cuma beli tanah ratusan hektar, lalu lobi proyek nasional supaya melintas tahan sendiri, lalu jual tanah ke negara, itu bukan pemimpin yang cocok membangun Sulut. Saya tidak berminat pilih calon gubernur model begitu,” kata Evan, warga Bolmong. 
Fenomena pemimpin dengan naluri dagang hanya akan menyita uang rakyat dalam jumlah besar. “Itu bisa bikin rakyat miskin. Walaupun pemimpin yang sama mengaku sukses lobi anggaran dan jalankan bantuan hibah. Tetap ada naluri mengeruk uang negara dengan cara jual tanah ratusan hektar ke negara,” ujar Terry, warga Manado. 
Calon Wakil Gubernur Sulut Sehan Salin Landjar mengatakan, dia sering beli tanah. Tapi setelah itu ia bangun ribuan rumah rakyat di Boltim. “Saya tidak pernah jual tanah ke pemerintah. Saya memang beli tanah. Tapi saya bangun ribuan rumah rakyat saya. Tahun ini kurang lebih 800 unit rumah untuk warga miskin,” jelas Sehan. 
Ia menambahkan, dirinya bersama CEP berkomitmen tidak berurusan dengan usaha dagang pribadi. “Saya ajak ibu Tetty (CEP), kalau jadi pemimpin, jangan sibuk beli tanah lalu jual lagi ke negara. Berdosa itu. Rakyat sengsara. Uang dikeruk,” tandas Sehan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *